09 Juni 2010

“US “

It’s all about us
Nothing can change us
No one can separate us
No one can break us

We are one
That’s all I want
We are one
And that’s all we want

Destiny come to us
Poorly, separate us
Wishing always become us
But now, no more us

It’s us
Father, Mother
And daughters
Always


^_^

Atlantic

I just lay my head
Upon my pillow
Going into deep
On Atlantic

Dreaming a new world
So quite world
A lonely world
And a beautiful world

I hear a new song
An angel sings that song
A song that I never heard
A song that stuck in my mind

A place that I called home
Where only me
And an angel’s song
On Atlantic

Satellite Love

I can see your face
Behind your scarf
I can read your words
And steal my world

Separate by distance
Separate by time
Separate by place
But close by mind

"You and I
Connected to a satellite
You and I
Love through a machine"

Just give time to talk
And we keep walk
Believe in satellite
To keep us tried


nb: maap klo ada yang mengutip dari lirik lagu...
just love this lyric...

14 Mei 2010

"Remember You"

I don’t like to say goodbye
However….there is a time for everything.
For everything there is a reason, a time for every activity under heaven.
A time to be born and a time to die
A time to plant and a time to harvest
A time to kill and a time to heal
A time to tear down and a time to build up
A time to cry and a time to laugh
A time to grieve and a time to dance
A time to scatter stones and a time to gather stones
A time to embrace and a time to turn away
A time to search and a time to quit searching
A time to keep and a time to throw away
A time to tear and a time to mend
A time to be quiet and a time to speak
A time to love and a time to hate
A time for war and a time for peace


by: Dian Harininggar

04 April 2010

Untitled

Tuhan,
Aku yakin Kau selalu ada...
Dan hanya Kau yang mengerti semua
kehidupan ini...

Lelah...
Aku pun tak ingin mengakhiri
Aku ingin selalu berjuang
Tapi keraguanku terlalu besar

Dimana semangat hidupku?
Dimana keceriaanku?
Semua terasa palsu..
Semua terasa hanya mimpi..

Yang hanya bisa kulihat dari kejauhan..
Tanpa siapapun
Tanpa apapun

Semuanya terasa tak berguna
Yang aku butuhkan hanya...
Ibu, Kakak dan Adikku...

Ingin ku menangis di sandarannya
Tapi...
Dunia ini telah menculiknya...
Dan dia telah bahagia dengan dunianya...

" I need you and I love you so much with all of my heart... "

27 Maret 2010

Akhir Drama

Semuanya tampak begitu indah, saat aku sadar bahwa perjalanan yang telah kita lewati selama berpuluh- puluh tahun hancur begitu saja. Aku sangat mencintainya, dia adalah seseorang yang sangat aku butuhkan saat aku merasa kesepian, merasa penat dan jenuh dengan semua pekerjaanku di kantor. Dia adalah Ahmad, suamiku. Suami yang telah bersamaku selama hampir 20 tahun ini dan telah memberiku 3 orang putri yang sangat cantik dan pintar. Mereka adalah Aisyah Putri, Adinda Putri dan anak terakhir kami yang berjarak hampir 10 tahun dengan Ais, Anissa Putri.
Pertengkaran adalah hal yang biasa dalam sebuah rumah tangga, dia membentakku atau bahkan tak menegurku saat aku akan berangkat bekerja menjadi hal yang sangat biasa akhir- akhir ini. Dia pun menjadi sangat egois saat dia memutuskan untuk keluar dari tempatnya bekerja.

“Aku ingin ada di rumah ini saja, menemanimu setiap hari dan menjaga anak- anak kita” katanya dengan raut muka yang sangat menyakinkan. Dia bekerja di sebuah perusahaan penambangan minyak yang ada di Solo dan dia harus bekerja di lepas pantai sebagai ahli listrik disana. Setiap tiga bulan sekali dia pulang ke rumah dan tiga bulan kemudian dia harus pergi lagi. “ Tapi, kau terlalu egois pak. Kau serahkan semua pekerjaan ini kepadaku? Apa yang ada dipikiranmu?” kataku yang benar- benar heran dengan keputusan dia. “Maafkan aku bu, tapi akupun juga tidak bisa hidup terlalu jauh dengan kalian. Tolong mengertilah.” Dengan segala kata- kata manisnya akhirnya akupun luluh.

Tak lama setelah dia berhenti dari pekerjaan dia, dia pun mulai terjebak dengan pergaulan para tetangga kami. Kebanyakan para suami yang ada di kampung kami pekerjaannya serabutan dan bahkan banyak yang pengangguran. Dia mulai berani bermain judi, walaupun sekedar bermain kartu. Tapi ini sangat mencoreng namaku keluarga kami, kami adalah termasuk keluarga yang terpandang di kampung kami karena pekerjaanku sebagai pegawai bank swasta yang ada di Solo.
Suatu hari dia menerima telpon dari perusahaan dia bekerja. Mereka menawarkan pekerjaan lagi untuk suamiku. Tapi aku tidak pernah menyangka dengan jawabannya. “Kenapa kau menolak pekerjaan itu? Kau tahu kalau itu adalah kesempatanmu? Aku sudah tidak kuat menjalani ini sendirian pak.” Aku bertanya dan menyakinkan dia bahwa itu adalah kesempatan yang sangat bagus. “Aku sudah bilang kalau aku tidak mau bekerja lagi disana, aku ingin disini bersama kalian. Apa itu salah?” katanya dengan nada sedikit membentak. “Tidak pak, itu tidak salah. Bagaimanapun juga kau adalah bagian dari keluarga ini dan sejauh apapun kau pergi, kita akan selalu dekat pak, karena kita selalu mendoakanmu.”Tanpa kusadari airmataku jatuh di pipiku. Dia memelukku dan meminta maaf atas semua ucapannya.

Dia memutuskan untuk meminta aku sejumlah uang untuk membuka usaha baju dan buku- buku islami. Aku sangat mendukung idenya tapi itupun tak bertahan lama dan dia mulai bergaul lagi dengan para tetangga dan judi. Semakin aku bersabar menghadapi dia semakin aku muak dengan tingkah lakunya yang semakin tidak jelas. Akupun sangat malu dengan anak- anakku, walaupun Ais dan Dinda sudah bukan anak kecil lagi. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan kalau mereka bertanya apa pekerjaan bapaknya sekarang.

Pernah suatu hari Dinda berkata padaku, “Bu, aku tadi dengar dari orang kalau bapak menang togel. Trus gimana bu?”. “Sudahlah mungkin itu orang lain, tidak mungkin bapak ikut togel kan?” jawabku berusaha menyakinkan Dinda. Aku merasa hatiku sangat hancur saat itu, apa yang sudah dia lakukan? Kenapa dia tega berbuat seperti ini kepadaku?

Adinda adalah anak keduaku, sekarang dia duduk dibangku kelas 2 smp. Dia sangat pendiam dan jarang sekali mengobrol denganku. Mungkin karena sejak kecil aku tidak pernah merawat dia karena pekerjaanku yang sangat menyita waktuku. Sejak kecil dia dirawat oleh nenekku yang juga tinggal dirumahku sampai sekarang. Aku sangat menyanyangi anak- anakku, Ais, Dinda dan Nisa. Mereka adalah kekuatanku disaat aku lemah dan capek karena pekerjaan kantorku.

Saat ini aku benar- benar sudah sangat capek dengan semua tingkah suamiku. Dan saat itu juga, dalam kurun waktu yang sangat singkat aku menemukan sosok yang sangat aku kagumi. Dia mengerti apa yang aku rasakan saat ini, dia datang saat aku membutuhkan seseorang untuk memberiku semangat hidup, selain anak- anakku yang kini mulai mengerti keaadan rumah tangga kami. Namanya Farhan, dia adalah mantan bosku di kantor. Dia datang dari Surabaya, dia sengaja pergi ke Solo karena ingin mencari pekerjaan baru. Dia datang tidak sendiri, dia juga membawa serta anak tunggalnya yang bernama Ikhsan. Dia menemuiku dan keluarga kecilku, dia meminta izin untuk menginap dirumah kami beberapa waktu sampai dia mendapat pekerjaan yang baru.
Selama Farhan tinggal disana, hari- hariku semakin ringan untuk kujalani. Rumah menjadi tempat yang terindah, walau aku masih tetap bersitegang dengan Ahmad, suamiku. Semakin lama aku sadar kalu ada rasa yang sangat tak wajar yang tumbuh dihatiku. Aku takut mengartikannya, tapi aku benar- benar jatuh cinta kepadanya. Dan pada akhirnya Farhan berpamitan untuk pindah dari rumah kami karena dia sudah mendapatkan kontrakan dan pekerjaan baru.

“Terima kasih untuk semua bantuan yang kalian berikan untuk saya dan anak saya Ikhsan. Semoga Allah membalas semua yang kalian berikan kepada kami.” Kata Farhan saat berpamitan kepada kami sekeluarga. “Iya, sama- sama pak. Kami merasa sangat senang dengan kehadiran bapak dan anak bapak. Semoga kalian tidak kecewa dengan apa yang kami berikan.” Kata suamiku dengan sangat bijaksana.
Kepergian Farhan tidak mengurangi rasa sayangku kepadanya. Setiap ada waktu luang, kami pergi berdua untuk hanya sekedar bertemu dan saling berbagi cerita. Aku bercerita semua apa yang aku alami saat ini didalam keluargaku. “Aku sudah benar- benar tidak tahan lagi dengan tingkah Ahmad yang semakin hari semakin membuatku jengkel.” Kataku memulai sesi curhat antara kami. “Sabar, mungkin semua yang kamu pikirkan itu adalah salah. Jangan pernah berpikiran negative terhadap suamimu.” Farhan meyakinkanku bahwa semua adalah perasaanku saja. “Tapi aku mendengarnya langsung dari tetanggaku, dia adalah orang yang paling aku percaya dan sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri. Tidak mungkin dia membohongiku.” Aku pun mulai meneteskan airmata, hatiku terasa sangat teriris saat menceritakan ini semua kepada Farhan.

Farhan adalah sosok yang sangat bijaksana, penyanyang dan pengertian sekali. Sangat berbeda dengan suamiku yang kukenal beberapa saat yang lalu, setelah dia keluar dari pekerjaannya. Farhan adalah seorang duda beranak satu, istrinya meninggal karena sakit jantung yang dideritanya sudah cukup lama. Ikhsan, anak Farhan satu- satunya berumur sama dengan Ais anak pertamaku. Mereka akhirnya bersekolah di SMA yang sama, karena Farhan tidak tahu harus menyekolahkan anaknya dimana.
Pertemuan kami yang secara diam- diam ini akhirnya dikeetahui oleh suamiku. “Kamu masih sering bertemu dengan Farhan? Kenapa harus sembunyi- sembunyi? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dari aku? Kau tidak mungkin berbuat seperti ini tanpa ada alas an yang jelas.” Suara Ahmad semakin meninggi dan emosi. “Iya, memang aku bertemu dengan Farhan setiap hari. Aku sudah terlalu bersabar dengan kelakuanmu, aku selalu diam saat kau mulai berjudi, aku selalu diam saat kau menyalahkan pekerjaanku, aku pun selalu diam saat kau mulai berkata kasar kepadaku.” Aku meluapkan semua yang ada dihatiku, “Haha, benar sekali dugaanku selama ini, kau selalu pergi setiap hari sabtu untuk bertemu dia kan? Apa yang ada dipikiranmu? Aku masih suami sahmu! Dan kau tahu itu, begitu juga dengan Farhan.” Ahmad mulai membentakku. “Aku capek dengan keadaan kita yang seperti ini, kau sudah tidak pernah menafkahiku lahir dan batin selama 2 tahun. Aku mencoba bersabar dengan semua tingkahmu beberapa tahun ini. Tapi aku benar- benar tidak menemukan jalan keluar dari masalah kita ini.” Airmataku mulai jatuh dan aku pun mulai tidak kuat menopang tubuhku.

Perlahan aku bangkit dari sofa yang aku duduki dan mengatakan “Mungkin jalan yang terbaik dari semua ini dalah perceraian. Aku ingin bercerai pak, aku sudah tidak tahan dengan semua ini.” Dia sangat kaget mendengar ucapanku dan seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja aku ucapkan. “Apa? Apa kau gila? Oh, aku tahu. Kau ingin bercerai agar kau bisa lebih leluasa berpacaran denga si Farhan itu kan? Pokoknya aku tidak akan pernah menceraikanmu bu. Apapun yang terjadi kau tidak boleh melakukan ini.” Dengan amarah yang masih menggebu dia pergi meninggalkan aku.
Aku berpikir didalam hatiku, apa yang telah aku lakukan? Pantaskah aku melakukan ini? Aku benar- benar kalut, aku mencoba bercerita kepada kedua anakku, Ais dan Dinda tentang apa yang telah terjadi. Mereka hanya terdiam dan tidak tahu apa yang harus mereka katakana. Tapi dalam keheningan saat itu tiba- tiba Ais berkata “Ya sudahlah bu, kalau memang itu yang terbaik buat ibu dan bisa membuat ibu lebih bahagia, kami setuju dengan keputusan ibu.” Aku memeluk mereka berdua dan si kecil, Nisa yang saat itu belum mengerti apa- apa. “Terima kasih nak, doakan supaya ibu diberikan kekuatan dan kesabaran oleh Allah dan diberikan kesehatan yang baik supaya ibu tetap bisa mencari nafkah untuk kalian. Jangan pernah meninggalkan ibu, nak. Kalian lah satu- satunya yang ibu miliki saat ini, berjanjilah apapun yang terjadi kalian tetap bersama ibu.” Sebuah kalimat bijak yang pernah aku ucapkan didepan anak- anakku. Aku tak pernah mengatakan hal seperti ini kepada anak- anakku, aku hanya mengatakan ini lewat doa yang selalu aku panjatkan disetiap sujudku kepada Allah.

Sebulan sudah aku tak bertegur sapa dengan suamiku dan selama itu pula aku mulai menjalin hubungan dengan Farhan. Awalnya memang aku tidak mau berhubungan terlalu jauh dengan Farhan, tapi sosoknya yang sangat bijaksana itu meluluhkan hatiku yang sedang terpuruk ini. Akhirnya aku beranikan diri untuk mendaftarkan perceraianku dan suamiku tanpa sepengetahuannya.

Keesokan paginya aku menemuinya di ruang tamu dengan membawa surat cerai kami, “Pak, ini surat cerai kita. Sidang pertama dimulai minggu depan. Kau tidak perlu menghadirinya, biar perceraian ini berjalan lancar.” Kataku dengan menyembunyikan rasa kesalku yang selama ini aku pendam. “Kau benar- benar ingin bercerai dari aku? Agar kau bisa menikah dengan Farhan? Aku sudah tahu semua tentang kau dan Farhan di belakangku. Aku benar- benar kecewa dengan sikapmu.” Dia sangat marah sekali dan mengacungkan jarinya ke wajahku. “Sudahlah pak, semua ini tidak ada hubungannya dengan Farhan atau siapa sajalah. Aku hanya merasa capek dan jenuh dengan kelakuanmu yang sangat tidak pantas untuk disebut sebagai suami. Kau tinggal menandatangani surat ini dan semuanya akan beres.” “Dan satu lagi…” lanjutku “Aku ingin anak- anak ikut denganku dan lusa kami akan segera pindah dari rumah ini.” Kataku dengan tegas.
Malamnya, aku berbicara kepada anak- anakku bahwa kami sudah memutuskan untuk berpisah dan pindah kerumah yang sudah aku kontrak beberapa hari yang lalu. Mereka setuju dan langsung mengikuti apa yang aku perintahkan. Keesokan harinya, kami pindah dari rumah itu. Rumah yang sudah hampir 20 tahun aku tinggali, berat rasanya untuk meninggalkan kenangan itu. Anak- anak mulai berpamitan dengan Bapaknya, “Pak, aku minta maaf ya kalau Ais, Dinda dan Nisa punya salah. Kami sayang Bapak, Bapak adalah bapak kami dan tidak aka nada yang bisa menggantikan bapak dihati kami. Assalamu’alaikum…” kata Ais yang mewakili adik- adiknya. “Iya nak, kalian tidak pernah salah. Ini semua salah bapak, jangan pernah lupakan bapak ya. Bapak sayang kalian….” Ahmad sangat menyesal dengan semua yang terjadi. Tapi dia tidak bisa berbuat apa- apa karena dia tahu dia yang menyebabkan semua ini terjadi. “Hati- hati di jalan ya nak…” katanya dengan mata berkaca- kaca.

Beberapa minggu setelah kepindahan kami, akhirnya surat cerai itu sudah ada di tanganku dan itu berarti kami sudah resmi bercerai. Aku bersyukur telah keluar dari kesengsaraan yang selama ini membuat hidupku tak tenang. Aku dan anak- anak mulai membangun semangat baru di rumah baru kami. Kini aku tahu bahwa selama ini yang menjadi kekuatanku adalah anak- anakku, aku sangat mencintai mereka. Dan kini aku memulai dengan hubungan yang sangat baik dengan mereka. Aku tidak ingin kehilangan mereka, merekalah sumber kebahagiaanku. Dan Farhan, akhirnya dia melamarku dan beberapa bulan stelah masa iddahku berakhir dia memberanikan diri untuk menikahiku. Anak- anakku setuju dengan semua keputusanku asalkan aku bahagia.

Kini aku mempunyai keluarga yang sangat sempurna, keluarga yang sangat aku impikan setelah aku gagal dengan Ahmad. Dan aku berharap ini adalah yang terakhir untukku, untuk selamanya.

14 Maret 2010

Song of Hope

O sweet To-morrow! -
After to-day
There will away
This sense of sorrow.
Then let us borrow
Hope, for a gleaming
Soon will be streaming,
Dimmed by no gray -
No gray!

While the winds wing us
Sighs from The Gone,
Nearer to dawn
Minute-beats bring us;
When there will sing us
Larks of a glory
Waiting our story
Further anon -
Anon!

Doff the black token,
Don the red shoon,
Right and retune
Viol-strings broken;
Null the words spoken
In speeches of rueing,
The night cloud is hueing,
To-morrow shines soon -
Shines soon!

by Thomas Hardy